Air Beriak Tanda Tak Dalam

Air Beriak Tanda Tak Dalam

Oleh: Sugibisnis (Owner Black Garlic 560)

Jika ada sebuah sungai, coba Anda lihat dan perhatikan aliran airnya. Ketika arus air melalui daerah yang dangkal, penuh bebatuan dan pasir, biasanya ada di dekat hulu sungai di dataran tinggi, pasti akan terdengar suara gemericik air yang cukup keras. Arus air kelihatan lebih deras, bergelombang, menimbulkan suara bergemuruh karena riak-riak air yang menggerus dasar pasir yang dangkal dan menghantam bebatuan yang dilewatinya. Semakin dangkal dan curam kemiringannya maka suara riak-riak arus air akan semakin berisik.

Ketika aliran sungai sampai di daerah pedalaman, atau dataran yang cukup landai, arusnya akan semakin kelihatan pelan dan tidak menimbulkan suara berisik. Tidak kelihatan ada riak-riak dari arus air karena melewati daerah yang dalam. Air mengalir begitu tenang, padahal mungkin arus di dalamnya cukup deras. Hal ini tejadi karena dasar sungai yang cukup dalam, tidak ada bebatuan yang dilewati aliran air. Air akan terus mengalir melewati daerah aliran sungai yang semakin rendah menuju muara yang ujungnya bertemu dengan lautan.

Sekelumit cerita di atas mengingatkan kita pada pelajaran sekolah waktu SD dan SMP, ada peribahasa yang mengatakan, “Air Beriak tanda tak dalam, Air Tenang menghanyutkan“. Arti dari peribahasa ini adalah Orang terlalu banyak bicara menandakan seseorang itu tidak banyak ilmunya. Orang yang terlalu banyak berbicara adalah orang yang tidak terlalu paham masalah pembicaraannya. Sebaliknya, orang yang makin berilmu, memahami dan memiliki kompetensi yang tinggi, akan semakin tenang dan semakin bijak. Orang seperti ini tidak banyak bicara, tidak banyak gaya, tidak banyak tingkah, tetapi jika mengerjakan sesuatu hasilnya keren dan tuntas. Nah… Anda termasuk yang mana neh..???

Mengapa orang yang rendah ilmunya atau dengan kata lain kurang cerdas lebih cenderung ‘belagu’? Sehingga ketika mengerjakan sesuatu, bisa jadi hasilnya tidak akan maksimal, jauh dari optimal. Orang seperti ini biasanya memiliki ciri-ciri berikut ini:

  • banyak bicara,
  • banyak tingkah,
  • banyak memerintah,
  • banyak mengeluh,
  • banyak mengkritik
  • banyak meminta

Semua tingkah laku di atas dilakukan justru untuk menutupi kekurangannya dan kedangkalan ilmunya. Dalam dirinya masih banyak batu-batu yang menghambat dirinya untuk berkembang. Batu-batu inilah yang menyebabkan banyak riak-riak dalam tingkah lakunya. Batu ini ibaratnya seperti hambatan mental (mental block) yang bersemayam kuat dalam dirinya. Mental block ini dengan kekuatannya akan mensabotase kesuksesan seseorang, akan menghalangi orang untuk berubah, istilah orang Jawa “nggondheli“. Akhirnya orang ini tidak suka perubahan, tidak berkembang, dan sudah barang tentu kurang produktif dalam pekerjaan.

Sahabatku, janganlah dipiara batu itu dalam diri Anda. Segera pecahkan dengan sekuat tenaga, walaupun usahanya akan sangat berat. Jika diperlukan, mintalah bantuan seseorang yang bisa memotivasi Anda untuk memecahkan batu mental block dalam diri Anda. Jika nantinya anda berhasil memecahkan atau memperkecil batu itu, anda akan merasakan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan anda. Dan langkah pertama yang harus anda lakukan adalah segera menyadari keberadaan Batu Mental Block dalam diri Anda, untuk selanjutnya mencari cara dan usaha untuk memecahkannya. Selamat mencoba..!!

Baca juga: Ice Skating: Keseimbangan Hidup

Salam Perubahan…!!!



Categories: Personal

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: