Penguasa Tanpa ULAMA

Penguasa Tanpa Ulama

Oleh: Sugibisnis (Owner Bakso Lahar 560)

Kita sering mendengar istilah Umara dan Ulama. Keduanya merupakan pasangan pemuka masyarakat yang utama. Keduanya merupakan penentu dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara. Dan keduanya juga penentu dalam membangun peradaban yang berkualitas, apakah berkeadilan sesuai aturan Allah atau penuh dengan kedzaliman (perseteruan, penindasan, kesenjangan, perampasan hak, korupsi, kolusi, nepotisme, dan segala bentuk ketidakadilan lainnya).

ULAMA, bentuk jamak dari kata ‘alim, artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu, orang cerdas, yakni orang yang ahli ilmu agama Islam. Kata ulama sepadan dengan ulul albab dalam Al-Quran, yaitu orang yang arif dan bijaksana.

UMARA, bentuk jamak dari kata amir, artinya pemimpin, penguasa. Kosakata amir sepadan dengan ulul amri dalam Al-Quran yang artinya orang yang mempunyai pengaruh, kekuasan. Orang yang memangku urusan rakyat, yakni penguasa.

Baca juga: Spiritualitas Target

Simaklah tulisan Sahabat Penulis saya, pak Nasrullah Baksolahar berikut ini. Semoga dapat memberikan inspirasi dalam kehidupan kita:

=========

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Bila penguasa sudah di batas kezaliman maka lawan yang seimbang adalah ulama. Begitulah zaman selalu bercerita. Setiap hadir pemimpin yang zalim, Allah mengutus para Nabi dan Rasul. Karena Nabi dan Rasul sudah tidak ada lagi, maka Allah menghadirkan ulama untuk meluruskannya. Penguasa sebagai wakil bumi dan ulama sebagai wakil langit.

Sejarah selalu bercerita, kemajuan umat Islam ketika penguasa dan ulama disandingkan sebagai kesejajaran, bukan alat kekuasaan. Ulama sebagai pembimbing dan penggerak, penguasa sebagai eksekutor.

Bila membaca seluruh perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan, kita akan menemukan fakta luar biasa. Dibalik semua perlawanan ada ulama yang mengobarkan, ada ulama yang menggerakkan, ada ulama yang berkorban hingga tetes darah terakhir.

Ulama tak memiliki aparat, dana dan persenjataan. Tetapi ulama memiliki ketersambungan dengan Allah. Ulama memiliki kekuatan yang bisa menyentuh pemikiran dan hati. Penguasa hanya bisa menggerakkan orang yang mabuk terhadap dunia dan kekuasaan. Dengan harta dan jabatan, penguasa menggerakkan rodanya. Mana yang lebih kuat?

Ulama memahami masa lalu dengan sejarah para pendahulunya. Membaca masa depan melalui basyirahnya. Penguasa memahami segalanya dari kepentingan hari ini, hanya melanggengkan kekuasaan. Ulama bahagia bila manusia tunduk pada Allah. Penguasa semakin pongah ketika semua orang mengakui dan menghinakan diri pada kekuasaannya.

Ketika penguasa sudah mengkriminalisasikan ulama, tandanya menghancurkan jiwa kekuatannya sendiri, menghancurkan jantung dan hatinya kekuasaan. Esensi kekuasaan itu keadilan. Adil itu menimbang dengan ilmu, kepahaman dan kebijaksanaan, yang bersumber dari energi Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana. Ego kepentingan dan kekuasaan takkan bisa menciptakan keadilan.

Rentang sejarah selalu bercerita, tanpa energi langit semua kekuasaan hanya menghasilkan penindasan dan kezaliman. Akal manusia tak bisa menimbang keadilan. Wahyu Allah yang bisa menciptakan keadilan di muka bumi.

Dalam keadilan ada ketentraman. Dalam kezaliman ada perseteruan. Itulah fitrah manusia yang terrekam dalam sejarah perjalanan manusia. Namun mengapa para penguasa lebih menikmati kezaliman?

Terperosok pada cinta dunia dan kekuasaan, itulah fitnah yang mengepung para penguasa. Bila ulama dimuliakan, maka ulama yang akan mengikis dan meminimalisirkannya. Bila ulama dikriminalisasi, bertanda cinta dunia dan kekuasaan sedang menyelimuti jiwa penguasa.

Penguasa tanpa Ulama, wajah kekuasaan seperti api yang menghanguskan.

=========

Bagaimana dengan kehidupan masyarakat bangsa Indonesia? Kita semua sebagai warga negara, tentu menghendaki kehidupan yang penuh dengan keadilan. Kita menginginkan para Pejabat Negara (Penguasa) yang amanah, kuat, tegas, berani mengatur urusan umat/ rakyat dengan penuh tanggung jawab, dan tentunya takut kepada Alloh serta selalu bersinergi dengan pandangan Ulama di Indonesia. Sehingga diharapkan masyarakat Adil Makmur bisa dinikmati bersama.

Ulama dan Umara harus seimbang dalam memberikan pengaruh dalam mengelola negara. Bila sebuah negara dikelola dengan memadukan antara kekuatan bumi dan kekuatan langit, maka Insya Alloh akan memberikan keberkahan dan keadilan bagi seluruh rakyat.

Baca juga: Apa Kiprahku di Dunia?

Salam Perubahan..!!



Categories: Siroh

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: