Kakek Penjual Pisang

Kakek Penjual Pisang

Kisah ini saya ambil dari broadcast di WAG, yang infonya, cerita ini merupakan kisah nyata dari seorang gadis yang tinggal di Cileungsi. Menurut saya, kisah ini sangat memberikan inspirasi dan menggugah kesadaran kita, bahwa di zaman sekarang orang terlalu mudah untuk mengucapkan kata-kata janji. Namun, janji tinggal janji dan tidak pernah ditepati. Selamat menyimak..!!

===========

Hati-Hatilah Jika Sudah Berjanji

“Pisang neng, mateng di pohon!”

Kakek, penjual pisang yang sering mangkal di pasar Cileungsi, menghampiriku begitu aku turun dari mobil.

“Saya belanja dulu ya Kek, nanti balik baru beli.”

“Iya Neng, Kakek tungguin yaa!”

Aku mengunci mobil dengan remote, lalu berjalan masuk ke pasar dengan sedikit jinjit, karena semalam hujan, jadi pasar agak becek.

Belanja di fress market sih jauh lebih nyaman, tapi harganya selangit boo, beda jauh dengan di pasar tradisional ini, meskipun yaa harus relah berbecek ria.

Selesai belanja di pasar, aku bergegas pulang. Dalam perjalanan menuju Kota Wisata, macetnya minta ampun. Mobil-mobil berjalan merayap.

Saat di depan pom bensin, aku lihat banyak pisang yang tergantung, tiba-tiba aku ingat janjiku pada si kakek penjual pisang di pasar tadi.

Astaghfirullah, mau putar balik, tapi macet.

Pikiranku bercabang, jika tidak balik, bagaimana kalau si kakek terus menungguku?

Tapi, kalau nunggu lama, kan si kakek pasti bosan, dan pulang. Gak mungkin dia tunggu sampai pasar bubar, batinku cari-cari alasan.

Macet belum juga usai, rasa lapar juga menyerang perutku. Bayangan kakek tua, dengan kopiah miring, dengan kemeja putih yang usang terus menari di pikiranku.

“Mbaak, jangan melamun dong, jalaaan, nambahin macet ajaaa!”

Seorang pengendara mobil mengagetkanku. Aku terkejut, kuinjak gas, mengikuti antrian panjang kendaraan. Hatiku belum juga tenang.

Aku masuk area perumahan Kota Wisata, lewat ruko Canadian. Begitu melewati jembatan, seseorang melintas, hampir saja kutabrak. Untung selamat..

Sampai di rumah, mbak Eni menurunkan belanja. Bani ponakanku yang memanggilku ibu, keluar, dia meneriksa belanjaan.

“Ibu, gak beli pisang!”

Aku diam, terbayang wajah kakek tua penjual pisang, mungkin dia masih menungguku.

“Kakak mau pisang?”

Dia mengangguk, matanya penuh harap. Ya Allah, jika Bani saja menyiratkan harapan, yang tiap hari bisa makan buah, bagaimana dengan si kakek, yang jualan demi memenuhi kebutuhannya sendiri dan keluarganya, meski sudah renta.

Aku meneguk segelas air, lalu ke kamar mengambil jaket dan masker.

Kupacu motor, tidak ada lagi macet. Terik matahari mampu menembus tebalnya jaketku. Tapi tidak kuhiraukan. Di pikiranku hanya ada kakek dengan kayu di pundaknya.

Tiba di pasar, hatiku pilu, bagaimana kalau aku tidak kembali, si kakek masih duduk menunggui beberapa sisir pisang uli dan raja.

“Kek, pisangnya masukin ke kantong ini ya!”

Aku berjongkok, kurentangkan kantong plastik putih, tanganku meraih lima sisir pisang.

“Jangan Neng, jangan semua, tadi kakek sudah janji sama Neng yang pake mobil item, nanti dia kecewa! Tadi juga banyak yang mau beli, tapi kakek tolak karena sudah janji.”

Air mataku menetes di balik kaca mata hitam. Kulepas masker, helm dan kaca mata.

“Kek, maafkan saya, sudah membuat kakek menunggu, kakek belum makan yaa karena nungguin saya!”

Dia melihatku dengan seksama, dari kaki hingga kepala.

“Kok Neng berubah?”

“Iya, tadi pulang dulu, kek!”

Tidak kukatakan kalau aku lupa. Setelah membayar harga pisang, kuselipkan satu lembaran merah ke saku bajunya.

“Jangan Neng, kan pisang kakek sudah diborong!”

Tangannya, menahan tanganku. Tapi tetap kutinggalkan di sakunya.

‘Inilah, kenapa salah satu ciri-ciri orang munafik menurut Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, adalah jika berjanji tidak ditepati. Karena bisa jadi, orang yang kita janjikan, betul-betul berharap’

Real story

===========

Baca juga: Berubah Itu MUDAH
Baca juga: Nasehat Untuk Anakku

Salam Perubahan..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.